BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Banyak organisasi yang ingin membangun
Sistem Informasi
Manajemennya sendiri, dan telah menyediakan dana yang cukup, tetapi ternyata
usaha tersebut sering kali gagal. Penyebabnya antara lain ialah: struktur
organisasi keseluruhan yang kurang wajar, rencana organisasi keseluruhan yang
belum memadai, personil sistem yang tidak memadai, dan yang terpenting adalah
kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam
merancang sistem, mengendalikan upaya pengembangan system dan memotivasi seluruh
personil yang terlibat.
Para perancang sistem apabila akan
mengembangkan Sistem Informasi Manajemen hendaknya mempertimbangkan faktor
manusiawi dengan cermat. Apabila tidak demikian, maka sistem yang dihasilkan
tidak efektif. Secara teoritis, komputer bukanlah persyarat mutlak bagi sebuah
Sistem Informasi Manajemen, namun dalam praktek agaknya menjadi suatu
kepercayaan bahwa Sistem Informasi Manajemen yang baik tidak akan berjalan
lancar tanpa bantuan kemampuan sebuah komputer.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
mengelola pengetahuan untuk perusahaan digital?
2. Apa saja
syarat indikator untuk
perusahaan digital?
3. Apa yang
dimaksud manajemen pengetahuan?
4. Apa yang
dimaksud sistem kerja pengetahuan?
5. Apa itu
kecerdasan tiruan?
6. Apa saja
teknik kecerdasan lainnya?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengelolaan pengetahuan untuk perusahaan digital
2. Untuk
mengetahui syarat indikator perusahaan digital
3. Untuk
mengetahui maksud manajemen pengetahuan
4. Untuk
mengetahui maksud sitem kerja pengetahuan
5. Untuk
mengetahui definisi kecerdasan tiruan
6. Untuk
mengetahui teknik kecerdasan lainnya
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Mengelola Pengetahuan Untuk Perusahaan
Digital
Pengetahuan merupakan asset produktif
dan strategis yang sentral dalam perekonomian informasi di zaman ini, dan
merupakan sumber keunggulan kompetitif yang potensial. Dengan pengetahuan,
perusahaan akan lebih efektif dan efisien dalam memanfaatkan sumber dayanya
yang terbatas. Tanpa pengetahuan, perusahaan akan kurang efektif dan efisien,
dan terancam gagal. Karena itu perusahaan perlu program manajemen pengetahuan.
Meskipun konsep Manajemen
Pengetahuan asli akhir-akhir ini, minat di dalamnya telah berkembang dengan
pesat dengan perkembangan teknologi informasi (TI). Oleh karena itu, sebuah
sistem Manajemen Pengetahuan perlu disiapkan dengan hati-hati, sistem informasi
manajemen (MIS) terstruktur di mana informasi yang dicatat, disimpan dan dibuat
tersedia bagi mereka yang membutuhkannya.
Inti dari Manajemen
Pengetahuan selanjutnya perlu didesain ‘pengembang
pengetahuan’
untuk merancang perangkat lunak komputer untuk mengendalikan database
pengetahuan, dan ‘pilihan pembelajaran’ yang akan memandu pengguna dalam
menemukan, pada suatu waktu, informasi yang akan melayani pengembangan pribadi
dan kebutuhan kerja mereka.
Suatu perusahaan digital
adalah suatu perusahaan yang hampir seluruh hubungan bisnis penting dari
organisasi dengan pelanggan, para pemasok, dan karyawannya dimungkinkan dan
dijembatani secara digital. Proses bisnis merupakan cara yang unik dimana
pekerjaan terorganisasi, terkoordinasi, dan terfokus untuk menghasilkan suatu
produk atau layanan yang bernilai. Didalam perusahaan digital, informasi
sekecil apapun yang diperlukan untuk mendukung keputusan bisnis dapat tersedia
kapanpun dan dimanapun pada perusahaan tersebut. Daya rasa dan respons
perusahaan digital terhadap lingkungannya jauh lebih cepat dilakukan disbanding
perusahaan tradisional, sehingga secara fleksibel ia mampu bertahan dalam
suasana yang bergolak.
2.1.1
Indikator Perusahaan Digital
Untuk membentuk suatu perusahaan digital tidak hanya
sekedar melakukan komputerisasi di bagian penjualan, pembelian, persediaan
barang atau keuangan saja, karena hal itu baru sebagian kecil dari suatu
rencana induk pembentukan perusahaan digital. Ada 4 indikator yang harus dipenuhi dalam perusahaan
digital yaitu:
1. Sistem Pengelolaan Rantai Pasokan
Sistem ini berarti melakukan otomatisasi terhadap sistem yang mengalirkan
informasi dari perusahaan kepada pemasoknya dan sebaliknya. Otomatisasi itu
dilakukan dalam usaha untuk mengoptimalkan perencanaan, persediaan bahan baku,
produksi, pengiriman produk dan jasa. Jika aliran informasi ini berlangsung
dengan lancar dan cepat, maka perusahaan tidak perlu memiliki gudang sendiri
untuk menyimpan bahan baku. Hal ini disebabkan kebutuhan itu dapat dipenuhi oleh pemasok dala waktu
yang sinkat, karena pemasok dapat memperoleh informasi dari perusahaan secara
cepat. Boleh jadi, sudah terbentuk sistem terintegrasi antara perusahaan dan
pemasok. Dengan melakukan komputerisasi sistem pengelolaan rantai pasokan maka
perusahaan dapat menghemat investasi, sehingga lebih kompetitif dalam
memasarkan produk jadinya.
2. Sistem Pengelolaan Relasi Pelanggan
Perusahaan tidak dapat menjaga kelangsungan hidupnya tanpa adanya pelanggan,
maka pelanggan merupakan faktor penting yang harus dikelola dengan baik. Untuk membangun hubungan yang
terintegrasi antara perusahaan dengan pelanggan, maka harus dibentuk suatu
sistem informasi yang dapat memfasilitasi komunikasi dan hubungan antara kedua
belah pihak. Penyelenggaraan fasilitas chatting atau e-mail bahkan suatu sitem
database untuk menampung umpan balik dari pelanggan merupakan suatu bentuk
minimal yang perlu disediakan, sehingga informasi itu dapat mengalir dengan
lancar.
3. Sistem Perusahaan
Indikator ketiga ini biasanya sudah lebih dahulu
dibangun oleh perusahaan, misalnya dengan membuat aplikasi sistem informasi
penjualan, pembelian, persediaan barang, keuangan dan akuntansi. Ada perusahaan yang sudah
lengkap mendigitalkan sistem perusahaannya, namun juga banyak yang melakukan
secara parsial, bagian per bagian secara bertahap. Kunci keberhasilan dari proses komputerisasi
ini terletak pada kemampuan pimpinan perusahaan dalam merumuskan suatu rencana
induk pembangunan sistem informasi yang terpadu antar bagian manajemen
perusahaan tersebut.
4. Sistem Pengelolaan Pengetahuan
Indikator keempat merupakan puncak dari gelombang
inovasi teknologi informasi dalam suatu perusahaan digital, yaitu dengan
membangun sistem yang mendukung untuk menciptakan kreasi solusi, mencatat,
menyimpan dan menyebarkan pengetahuan dan keahlian. Salah satu bentuk sistem ini
sering disebut dengan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dan Sistem Pakar.
2.1.2
Manajemen Pengetahuan dalam Organisasi
Pengetahuan manusia
dimulai sejak manusia mengenal informasi, yaitu informasi mengenai apa yang
sedang terjadi, apa yang telah dikatakan, bagaimana terjadinya, atau apa yang
sedang dipikirkan. Kemudian informasi yang didapat selanjutnya diteruskan
kepada orang lain melalui komunikasi. Komunikasi
berlangsung antara manusia dengan manusia, baik itu komunikasi secara langsung maupun
tidak langsung. Kemudian, pengetahuan dan informasi tersebut bergerak dinamis
melalui organisasi dalam berbagai cara, tergantung bagaimana organisasi
memandangnya. Manajemen Pengetahuan didefinisikan sebagai setiap proses atau
praktek membuat, memperoleh, menangkap, berbagi dan menggunakan pengetahuan, di
mana pun berada, untuk meningkatkan pembelajaran dan kinerja dalam organisasi. Pengetahuan bagi organisasi merupakan
modal intelektual yang dapat dibeda-bedakan menurut jenis pengetahuan yang
dimiliki seseorang.
Dilihat
dari jenisnya, ada dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan explicit dan pengetahuan
tacit.
·
Tacit
ü Tersimpan dalam pikiran manusia, sulit
diformulasikan (misalnya keahlian seseorang)
ü Penting untuk kreatifitas dan inovasi
ü Dikonversikan ke eksplisit dengan
eksternalisasi
ü Misalnya pengalaman bertahun-tahun
yang dimiliki oleh ahli
·
Explisit
ü Dapat dikodifikasi/formulasi
ü Dikonversikan ke tacit dengan
pemahaman dan penyerapan
ü Misalnya dokumen, database, materi
audio visual dll
Pengetahuan eksplisit
dapat diungkapkan dengan kata-kata dan angka, disebarkan dalam bentuk data,
rumus, spesifikasi, dan manual. Pengetahuan tacit sifatnya sangat personal,
sulit diformulasikan sehingga sulit dikomunikasikan dan disebarkan kepada orang
lain. Sehingga dapat dikatakan bahwa Explicit Knowledge merupakan bentuk
pengetahuan yang sudah terdokumentasi/terformalisasi, mudah disimpan,
diperbanyak, disebarluaskan dan dipelajari. Contoh manual, buku, laporan,
dokumen, surat, file-file elektronik, dsb. Sedangkan Tacit Knowledge, merupakan
bentuk pengetahuan yang masih tersimpan dalam pikiran manusia. Misalnya gagasan, persepsi, cara
berpikir, wawasan, keahlian/kemahiran, dan sebagainya.
2.1.3
Sistem Kerja Pengetahuan
SKP adalah
system yang dikembangkan khusus untuk para teknisi, ilmuwan dan para pekerja di
bidang pengetahuan lainnya yang betugas memperoleh dan menciptakan pengetahuan
baru bagi perusahaan mereka. Perusahaan juga memiliki system khusus bagi pekerja pengetahuan untuk
membantu membuat pengetahuan baru dan menjamin bahwa pengetahuan ini
terintegrasi secara tepat dalam bisnis. Sistem ini memerlukan akses yang mudah
ke basis pengetahuan eksternal: perangkat keras computer yang canggih yang
dapat mendukung peranti lunak dengan banyak grafis, analisis, manajemen
dokumen, kemampuan komunikasi dan antar muka yang user-friendly. Aplikasi
system kerja pengetahuan secara umum dibagi tiga, yaitu:
1. Desain Berbantuan Komputer (computer
aided design – CAD) membuat proses penciptaan dan revisi rancangan menjadi
otomatis, dengan menggunakan komputer dan peranti lunak grafis yang rumit. Berguna bagi para insinyur, perancang
grafis, dan manajer pabrik dalam memberikan kendali yang lebih tepat mengenai
rancangan industry dan pabrikasi.
2. Sistem realitas virtual memiliki kemampuan visualisasi,
penerjemahan, dan simulasi yang jauh melebihi sistem desain dengan bantuan
komputer. Sistem ini menggunakan peranti lunak grafis interaktif untuk
mendapatkan simulasi buatan komputer yang sangat mirip dengan kenyataan hingga
bahkan para penguna hampir memercayai bahwa mereka dalam dunia nyata. Berguna
bagi para perancang grafis, arsitek, insinyur dan pekerja medis dalam
menciptakan obyek-obyek fotorealistik dan simulasi yang presisi.
3. Workstation Investasi khusus pada
industry keuangan, untuk mendayagunakan pengetahuan dan waktu dari para
pialang, pedagang, dan manajer portofolio.
2.1.4
Kecerdasan Tiruan
Organisasi menggunakan teknologi kecerdasan tiruan untuk menangkap
pengetahuan individu dan kolektif dan untuk mengkodifikasi serta memperluas
basis pengetahuan.
Kecerdasan
Tiruan (atau artificial intelligence [AI]) adalah upaya untuk mengembangkan
system berbasis computer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) yang
berperilaku seperti manusia. Sistem seperti itu akan mampu mempelajari bahasa
ibu, menjalankan tugas-tugas fisik yang berkoordinasi (robotic), menggunakan
perlengkapan pemahaman yang menginformasikan perilaku fisik dan bahasanya, sistem
pemahaman oral dan visual, dan berusaha menyamai keahlian manusiawi dan
pengambilan keputusan (sistem pakar). System seperti ini juga bisa menunjukkan
logika, pembenaran, intuisi, dan kualitas-akal-sederhana yang diasosiasikan
dengan manusia.
Kecerdasan buatan tidak memiliki fleksibilitas, keluasan, dan keumuman dari
kecerdasan manusia, tapi dapat digunakan untuk menangkap, megodekan, dan
memperluas pengetahuan perusahaan. Perusahaan dapat menggunakan kecerdasan
buatan untuk:
1. Membantunya menangkap dan
menyimpan pengetahuan tersirat;
2. Menemukan pengetahuan;
3. Menghasilkan solusi bagi masalah
tertentu yang terlalu besar dan kompleks untuk dianalisa oleh manusia; dan
4. Membantu perusahaan mencari dan
menyaring informasi.
6.1.4 Teknik-Teknik Kecerdasan Lainnya
Organisasi
menggunakan teknik komputasi kecerdasan lainnya untuk memperluas basis
pengetahuan mereka dengan memberikan solusi atas masalah yang terlalu besar
atau kompleks untuk ditangani orang-orang yang memiliki sumber terbatas.
Beberapa teknik kecerdasan lainnya diantaranta:
1.
Jaringan sistem saraf
Jaringan sistem saraf dirancang
untuk mengistimasi proses pemikiran fisik dari otak biologis. Terdapat dua
bagian pada sistem saraf yaitu soma atau sel saraf, pada bagian pusat bertindak
sebagai switch, menstimulasi oleh neuron. Terpancar dari neuron adalah axon
yang merupakan koneksi aktif elektrik kedendrit atau neuron lainnya. Axon dan
dendrite merupakan “kabel” yang secara elektrik menghubungkan neuron satu sama
lainnya. Simpangan dari keduanya disebut synapse. Model biologis sederhana ini
adalah metapora untuk pengembangan jaringan sistem saraf. Sistem saraf terdiri
dari perangkat keras dan perangkat lunak yang berusaha mengevaluasi pola
pemrosesan dari otak biologis.
Perbedaan sistem jaringan dengan
sistem pakar: sistem pakar mencari cara atau model sedekat mungkin dengan cara
manusia menyelesaikan masalah, namun para pembuat jaringan sistem saraf
mengklaim bahwa mereka kecerdasan manusia, tidak memprogram solusi, dan tidak
mengarah pada penyelesaian masalah tertentu semata-mata. Sebaliknya, para perancang
sistem saraf memiliki tujuan meletakkan kecerdasan pada perangkat lunak dalam
bentuk kemampuan belajar yang digeneralisasikan. Sedangkan sistem pakar,
dirancang secara khusus terutama untuk memberikan penyelesaian masalah tertentu
dan tidak bisa dengan mudah dilatih ulang.
2.
Fuzzy logic
Program komputer tradisional
memerlukan presisi : on-off, ya-tidak, benar-salah. Namun, kita manusia tidak
mengalami dunia dengan cara seperti itu. Fuzzy logic adalah teknologi berbasis
aturan yang mengizinkan ketidak akuratan dan bahkan menggunakannya untuk
menyelesaikan masalah yang belum pernah dipecahkan sebelumnya. Fuzzy logic
terdiri dari beragam konsep dan teknik untuk menampilkan dan mengumpulkan
pengetahuan yang tidak akurat, tidak pasti, atau tidak bisa dipercaya. Fuzzy
logic bisa menciptakan aturan-aturan yang menggunakan aprosikmasi suatu nilai
subjektif atau data yang ambigu atau tidak lengkap. Dengan mengekspresikan
logika menggunakan beberapa ketidak akuratan yang sudah ditetapkan dengan
cermat sebelumnya, fuzzy logic menjadi lebih dekat dengan cara berpikir orang
yang sebenarnya dari pada aturan-aturan tradisional IF-THEN.
3.
Algoritma Genetik
Olgaritma genetic (disebut juga komputasi adaptif) adalah variasi teknik
pemecahan masalah yang secara konseptual berdasarakan metode bahwa organism
hidup terus beradaptasi terhadap lingkungannya-proses evolusi. Algoritma
genetic deprogram agar bekerja dengan cara populasi penyelesaian
masalah-masalah denga nmengubah dan mengorganisasi ulang bagian-bagian dari
komponennya menggunakan proses seperti reproduksi, mutasi, dan seleksi alamiah.
Dengan demikian, algoritma mendorong evolusi solusi untuk masalah tertentu,
mengendalikan generasi, variasi, adaptasi dan pemilihan kemungkinan solusi
menggunakan proses berbasis-genetik.
4.
Intelegen Agent
Intelligent Agent adalah program
perangkat lunak yang bekerja di latar belakang tanpa campur tangan manusia
untuk menjalankan tugas-tugas repetitive, khusus, dan terprediksi untuk
pengguna individu, proses bisnis atau aplikasi perangkat lunak. Intelegent agent
menggunakan basis pengetahuan built-in untuk menjalankan tugas-tugas atau
mengambil keputusan sesuai input dari pengguna. Integent agent bisa diprogram
untuk mengambil keputusan berdasarkan profesi personal pengguna-misalnya
menghapus e-mile sampah, jadwal pertemuan, atau menjelajah jaringan yang saling
terkoneksi untuk menemukan tiket penerbangan ke California yang termurah. Intelegent
agent bisa dikoneksikan kepersonal digital assistent dan berkolaborasi dengan
pengguna dalam lingkungan kerja yang sama. Selain itu juga bisa membantu
pengguna dalam menjalankan tugas-tugas sesuai input pengguna, memberi
pelatihan, atau pengajaran kepada pengguna, menyembunyikan kompleksitas
tugas-tugas sukar, membantu pengguna berkolaborasi dengan pengguna lainnya,
atau memonitor peristiwa dan prosedur.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dalam
mengelola pengetahuan untuk perusahaan digital, suatu perusahaan harus
melengkapi 4 syarat indikator sebagai perusahaan digital, harus bisa
memanajemen pengetahuan dalam suatu perusahaan, kita bisa menentukan sistem
kerja pengetahuan dalam perusahaan, dan harus tahu mengenai kecerdasan tiruan
maupun teknik kecerdasan lainnya yang bisa digunakan dalam perusahaan.
Indikator yang harus dipenuhi dalam perusahaan
digital yaitu Sistem
pengelolaan rantai pasokan, Sistem
pengelolaan relasi pelanggan, Sistem
perusahaan, dan Sistem
pengelolaan pengetahuan.
Manajemen Pengetahuan didefinisikan
sebagai setiap proses atau praktek membuat, memperoleh, menangkap, berbagi dan
menggunakan pengetahuan, di mana pun berada, untuk meningkatkan pembelajaran
dan kinerja dalam organisasi.
SKP adalah system yang dikembangkan khusus
untuk para teknisi, ilmuwan dan para pekerja di bidang pengetahuan lainnya yang
betugas memperoleh dan menciptakan pengetahuan baru bagi perusahaan mereka.
Kecerdasan Tiruan (atau
artificial intelligence [AI]) adalah upaya untuk mengembangkan system berbasis
computer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) yang berperilaku seperti
manusia.
Teknik kecerdasan lainnya terdiri
atas jaringan sistem saraf, fuzzy logic, algoritma genetik dan intelegent
agent.
DAFTAR
PUSTAKA
Atchokers. (2013,
April 17). Pantang Menyerah. Dipetik November 27, 2015, dari MENGELOLA PENGETAHUAN
UNTUK PERUSAHAAN DIGITAL: file:/%20kelompok%201/mengelola-pengetahuan-untuk-perusahaan.html
Ferdiansyah, H.
(2010, January 5). Sistem Informasi Manajemen. Dipetik November 27,
2015, dari Mengelola Pengetahuan ( Ringkasan BAB II ) : file:/%20kelompok%201/mengelola-pengetahuan-ringkasan-bab-ii.html
Mu'alim, E. (2012,
December 21). tjek erdi.com. Dipetik November 27, 2015, dari SISTEM
INFORMASI MANAJEMEN: file:/%20kelompok%201/sistem-informasi-manajemen.html
Muzayyin. (2011,
September 25). MUZAYYIN. Dipetik November 27, 2015, dari Ringkasan Bab
11: MENGELOLA PENGETAHUAN : file:/%20kelompok%201/ringkasan-bab-11-mengelola-pengetahuan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar