MAKALAH SISTEM INFORMASI

Dosen
Pembimbing :
Amma Fazizah,
M.AB
Oleh :
Fikri Adi
Nugroho (201469100010)
Semester 3
PRODI ILMU
ADMINISTRASI NIAGA
FAKULTAS ILMU
SOSIAL ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
YUDHARTA PASURUAN
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, dapat menyusun makalah berjudul “Sistem Informasi” dengan baik dan
lancar.
Makalah ini disusun guna memenuhi Ujian Akhir Semester 3 Mata Kuliah “Sistem
Informasi”. Materi Sistem
Informasi dalam Sistem
Informasi ini merupakan materi yang telah ditetapkan dalam kurikulum
perkuliahan bagi mahasiswa semester III
Ilmu Administrasi Niaga Universitas Yudharta Pasuruan.
Makalah ini berisikan tentang kajian-kajian sistem
informasi, berikut pengertian dan penjabaran yang diuraiakan untuk mempermudah
pembaca khususnya mahasiswa untuk memahami isinya. Tiada gading yang tak retak,
demikian pula dengan makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu penulis
membuka saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Demikian
semoga bermanfaat.
Penulis,
Fikri Adi Nugroho
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sistem Informasi Manajemen merupakan
sebuah bidang yang mulai berkembang sejak tahun 1960an. Walaupun tidak terdapat
konsensus tunggal, secara umum Sistem Informasi Manajemen didefinisikan sebagai
sistem yang menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi,
manajemen, serta pengambilan keputusan sebuah organisasi. Sistem Informasi
Manajemen juga dikenal dengan ungkapan lainnya seperti: “Sistem Informasi”,
“Sistem Pemrosesan Informasi”, “Sistem Informasi dan Pengambil Keputusan”.
Sistem Informasi Manajemen
menggambarkan suatu unit atau badan yang khusus bertugas untuk mengumpulkan
berita dan memprosesnya menjadi informasi untuk keperluan manajerial organisasi
dengan memakai prinsip sistem. Dikatakan memakai prinsip sistem karena berita
yang tersebar dalam berbagai bentuk dikumpulkan, disimpan serta diolah dan
diproses oleh satu badan yang kemudian dirumuskan menjadi suatu informasi
(Sentranet, 2013).
Kemajuan alat komunikasi pada
melinium ketiga semakin mempermudah perolehan informasi dari berbagai sumber
untuk berbagai kepentingan terutama dalam berbagai pengambilan keputusan
didalam perusahaan, itulah sebabnya sangat dirasakan pentingnya mengelolah
informasi secara terintegrasi pada setiap organisasi perusahaan. Oleh karena
itulah focus utama dari system informasi manajemen adalah bagaimana mengelolah
informasi sebaik-baiknya agar dapat menjadi alat pembantu bagi setiap manajer
dalam pengambilan keputusan.
System informasi manajemen telah ada
jauh sebelum teknologi informasi yang berbasiskan computer hadir. Akan tetapi
dengan adanya computer sebagai salah satu bentuk revolusi dalam teknologi
informasi, computer telah dengan menakjubkan mampu memproses data secara cepat
dan akurat bahkan menyajikan informasi yang sekiranya dilakukan secara menual
tanpa bantuan computer memerlukan waktu berhari-hari bahkan bermingggu-mingggu.
Dengan
semakin berkembangnya teknologi informasi saat ini, dimana segala kegiatan
dalam kehidupan sehari-hari akan berbasis komputer. Maka dalam suatu instansi
Komputer merupakan bahan kebutuhan dalam menciptakan dan memperoleh serta
memproses suatu sistem informasi yang setiap saat selalu berkembang. Oleh
karena itu setiap orang harus mampu berupaya mengikuti arus informasi yang
berkembang di dunia teknologi ini. Pada instasni perusahaan manapun saat ini pastilah
menggunakan Sistem Informasi Manajemen yaitu sebuah sistem manusia atau mesin
yang terpadu (integrated), untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi
operasi, manajemen dan pengambilan keputusan.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
penerapan sistem informasi dalam manajemen pada suatu organisasi?
2.
Kapan dan
dimana dibutuhkan adanya suatu sistem pendukung keputusan?
3.
Bagaimana peran
teknologi informasi khususnya sistem informasi dalam manajemen perkantoran
modern?
1.3
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui penerapan sistem informasi dalam manajemen pada suatu organisasi
2.
Untuk
mengetahui kapan sistem pendukung keputusan dibutuhkan
3.
Untuk
mengetahui peran teknologi informasi khususnya sistem informasi dalam manajemen
perkantoran modern
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penerapan SI
dalam Manajemen suatu Organisai
Aliran informasi diatur dan
diarahkan dalam suatu sistem informasi. Sistem informasi berperan dalam proses
pengambilan keputusan operasional harian sampai perencanaan jangka panjang. Ini
berarti SI bersifat modifikatif terhadap kebutuhan organisasi. Komponen
prosedur dalam SI berkaitan dengan prosedur manual dan prosedur berbasis
komputer serta standar untuk mengolah data menjadi informasi yang berguna.
Suatu prosedur adalah urutan langkah yang Sebagai contoh sistem yang umumnya
ada dalam suatu organisasi adalah sistem penggajian, personalia, akuntansi, dan
gudang. Data mengalir dari bermacam sumber seperti : konsumen yang membeli
produk atau layanan, penjual yang menyediakan barang, bank, agen pemerintah,
dan agen asuransi.
Contoh kasus
:
Taxi
Blue Bird Group merupakan market leader dalam bisnis transportasi, Blue Bird
sudah menjadi brand yang kuat dan dikenal luas oleh masyarakat. Diawali
dengan armada 25 taksi pada tahun 1972, kini setelah lebih dari 30 tahun
mendalami bisnis jasa transportasi, Blue Bird telah berkembang pesat
dengan sekitar 12000 armada-nya yang tersebar di seluruh penjuru Jakarta.
Kesuksesan yang diraih oleh Blue Bird ini tak lepas dari upaya Blue Bird
dalam memanfaatkan teknologi. Berawal sekitar tahun 1972, Blue Bird yang
mengimplementasikan pertama kali di Indonesia sistem komunikasi radio
serta penggunaan argometer yang ketat untuk armada-armadanya. Jejak
langkah Blue Bird ini diikuti pula oleh perusahaan taksi lainnya yang
beroperasi di Indonesia. Sekitar beberapa tahun terakhir ini Blue Bird sudah
menggunakan teknologi GPS (Global Positioning System). Selain digunakan
untuk melacak posisi armada-armadanya, GPS ini juga digunakan sarana
berkomunikasi antara armada taksi dengan Call Center.
Berbeda
dengan teknologi komunikasi radio yang terbatas pada komunikasi suara yang
sudah umum digunakan oleh operator-operator taksi, teknologi GPS ini
mempermudah operator dalam menentukan posisi konsumen dan armada mana
yang dapat menjangkaunya, sehingga pelayanan bisa dilakukan lebih cepat
dan mengurangi antrean pemesanan. Keunggulan lainnya, konsumen tidak
perlu mendengarkan suara dari radio komunikasi ketika ada pemesanan yang
masuk ke pengemudi taksi. Perkembangan Blue Bird tidak cukup hanya di
kota Jakarta dan sekitarnya saja, melainkan di kota-kota besar lain di
Indonesia. Di Bali, sejak tahun 1989 Blue Bird Group telah menempatkan
armada Golden Bird-nya, yang diikuti dengan armada taksi regular Bali
Taksi pada tahun 1994. Kemudian berturut-turut pada tahun 1996 dan 1997,
taksi regular memasuki Lombok dengan nama Lombok Taksi dan kota Surabaya
dengan nama Surabaya Taksi. Sekitar bulan November 2005, Blue Bird mulai
menjamah kota Bandung dengan 75 armada taksi regulernya. Meskipun dengan
jumlah armada yang masih sedikit, Bandung Taksi ini mendapatkan
pertentangan yang cukup keras dari operator-operator taksi lainnya di Bandung.
Harus diakui jika reputasi dan brand image yang telah diposisikan oleh
Blue Bird Group, cukup menjadi ancaman terhadap operator taksi lainnya.
Blue
Bird pada saat ini meningkatkan diversifikasi produknya ke jasa angkutan
non-penumpang Blue Bird dengan menyediakan jasa Truk Container, yaitu Iron Bird
dan Angkutan Kontenindo Antarmoda. Di luar usaha transportasi primer,
Blue Bird juga telah mendirikan Holiday Resort Lombok, dan perusahaan
manufacture otomotif seperti Everlite, Restu Ibu, Ziegler Indonesia, serta
usaha service lain seperti Jasa Alam, Gas Biru, dan Ritra Konnas Freight
Centre. Perusahaan transportasi Blue Bird berhasil mengimplemantasikan solusi
Business Intelligent (BI), yakni SAP NetWeaver Business Intelligent (SAP NetWeaver
BI). Ini merupakan suatu solusi yang mengolah data mentah menjadi
informasi pendukung pengambilan keputusan perusahaan dan proses bisnis
sehingga mampu memberikan gambaran lengkap dari bisnis untuk memenuhi
kebutuhan yang berbeda dari para pengguna, professional TI dan manajemen
senior. Solusi ini disediakan melalui teknologi portal enterprise dan
menyediakan kepada para penggunanya suatu infrastruktur andal, peralatan yang
komprehensif, kemampuan untuk melakukan perencanaan dan simulasi,
serta fungsionalitas data-warehousing.
Aplikasi
Business Intelligent diperlukan perusahaan untuk mengumpulkan, menyimpan,
menganalisis dan menyediakan akses ke data guna membantu penggunanya
mengambil keputusan bisnis secara akurat. SAP (System Application
and Product) adalah software ERP (Enterprise Resources Planning), yaitu
merupakan tools IT dan manajemen dalam membantu pencanaan dan kebijakan
perusahaan didalam mengambil keputusan, serta merupakan software yang
diimplementasikan untuk mendukung organisasi dalam menjalankan kegiatan
operasional secara lebih efisien dan efektif. SAP terdiri dari serangkaian
modul aplikasi yang mampu mendukung semua transaksi perusahaan. Semua
modul dalam aplikasi SAP dapat diintegrasikan secara terpadu antara satu
dengan lainnya serta memungkinkan ketersediaan data yang akurat dan
aktual. ERP merupakan suatu perangkat lunak yang didesain untuk memadukan
proses bisnis yang ada, pengunaan database perusahaan untuk menghasilkan
informasi yang valid. ERP dan Business Intelligence mempunyai
keterkaitan, ERP merupakan sistem yang menintegrasikan seluruh sistem
yang ada dalam suatu perusahaan untuk mendapatkan informasi yang benar
dan digunakan untuk pengambilan keputusan.
Proses
implementasi Business Intelligent di Blue Bird Group dapat berjalan dengan baik
karena garis besar cakupan proyek dan indikator kinerja kunci perusahaan
sangat jelas. Di samping itu, proses implementasi secara hirarki dan
dengan dukungan tenaga-tenaga konsultan yang professional dan berkualitas
juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan proses implementasi. Konsultan
yang andal memahami bahwa pendekatan dari bottom up untuk
mengimplementasikan business intelligent akan membutuhkan waktu yang
panjang. Sedangkan metode top down merupakan metode yang tepat untuk
mengimplementasikan Business Intelligent. Blue Bird Group
mengimplementasikan SAP Netweaver BI untuk modul-modul Financial
Accounting (FI), Controlling (CO), CO Profitability Analysis (CO PA) Plant
Maintenance (PM), dan modul yang dirancang khusus yang dinamakan
“Taximeter System” dari legacy VB sistem perusahaan. Proses implementasi
dilakukan oleh Hermis consulting. Pada fase pertama, SAP NetWeaver BI “GO
Live”.
Mengingat
pertumbuhan bisnis yang kian kompleks, Blue Bird Group mengimplementasikan
SAP Business Suite, yang membantu perusahaan mengonsolidasikan operasional yang
terdiri dari 28 cabang perusahaan, lebih dari 70 pool. Setelah itu, Blue
Bird Group membutuhkan suatu sistem yang mampu mengelola laporan-laporan
yang dihasilkan SAP Business Suite guna menjadi informasi akurat yang
dapat diakses secara cepat dan tepat untuk proses pembuatan keputusan.
Blue Bird selanjutnya menginstal SAP NetWeaver BI sebagai suatu solusi
yang membantu perusahaan untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari
sistem SAP-nya. Melalui implementasi solusi tersebut, Blue Bird berkeinginan
memiliki suatu solusi BI yang memberikan fungsionalitas menyeluruh dan
terbaik, serta di saat yang bersamaan juga menyediakan fitur-fitur bagi
kebutuhan spesifik industri. Disamping itu, solusi harus mampu
mengintegrasikan data dari berbagai perusahaan dan mentransformasikan ke
dalam bentuk yang dapat dipraktekan, informasi bisnis yang tepat waktu
untuk mendorong proses pembuatan keputusan, serta menghasilkan
tindakan-tindakan yang strategis dan bisnis yang solid. Kelompok usaha
Blue Bird telah mengumumkan rampungnya pengimplementasian solusi peranti
lunak SAP dalam sistem Teknologi Informasi mereka. Sebagai perusahaan
transportasi yang armadanya mencapai lebih dari 15.000 kendaraan, Blue
Bird memerlukan solusi TI yang handal untuk memantau banyak hal dalam
operasionalnya sehari-harinya, Order pelanggan, kendaraan yang beroperasi dan
yang dalam perawatan, sampai konsumsi bahan bakar, perlu terdata dengan baik.
Dengan tujuan integrasi dan akurasi data, solusi MySAP Business Suite
dimanfaatkan Blue Bird untuk menangani semua itu. MySAP Business Suite
merupakan solusi peranti lunak dengan fungsi luas. Dengannya, Blue Bird
dapat memonitor banyak informasi penting secara mudah dan tepat waktu.
Data tersebut akan tersedia sesuai dengan informasi yang diperlukan oleh
jajaran management untuk membuat keputusan secara cepat. Ini tentu
meningkatkan efisiensi perusahaan. Implementasi mySAP Business Suite
tersebut meliputi fungsi keuangan, controlling, sales & distribution,
material management dan fleet management.
Di
samping itu, SAP secara khusus mengembangkan dua fungsi lain untuk Blue
Bird, yakni Driver Management dan Operation & Reservation Management
agar bisa disatukan dengan sistem mereka yang berbasiskan Visual Basic.
Implementasi SAP dapat membawa perubahan besar bagi perusahaan ini. Dapat
dibayangkan hanya dengan mengklik sebuah tombol, maka dapat melihat
visibilitas di seluruh operasional perusahaan. Blue Bird Group merintis
penggunaan MDT (Mobile Data Transfer) dan GPS sebagai instrument
pelengkap di taksinya. MDT mirip seperti pager, dimana setiap informasi
yang terkait dengan pengemudi akan tampil dilayarnya. MDT juga merupakan
alat penangkap order dalam radius 3-4 km untuk setiap order yang dilelang
via data komputer, sehingga tidak ada istilah lagi pengemudi berebut
order atau spekulasi posisi taksi yang terlalu jauh dari tempat jemput
konsumen. Pada saat ini 50% lebih mobil-mobil Blue Bird sudah dilengkapi
dengan teknologi global positioning system (GPS) yang dapat memantau
keberadaan mobil di jalan raya. Dengan alat ini mobil dapat dilacak di
manapun keberadaannya. Selain memudahkan para pengemudi, penumpang juga merasa
lebih terlindungi jika menggunakan Blue Bird. Sampai saat ini masih
sedikit perusahaan taksi lainnya yang menggunakan GPS dikarenakan biayanya
sangat tinggi dan harga GPS per unit mobil adalah Rp 15 juta. Pihak
manajemen merencanakan semua taksi Blue Bird akan dilengkapi dengan sistem GPS.
Salah satu strategi yang digunakan Blue Bird didalam memelihara loyalitas
pelanggannya ialah dengan menyediakan credit voucher yang tidak hanya
untuk korporat saja, namun juga untuk perorangan. Pihaknya juga hendak
menyediakan tabel diskon tertentu. Pelanggan yang loyal pada Blue Bird
dengan program ini akan dapat menggunakan taksi dengan harga diskon,
besarannya bervariasi antara 5%-15%.
Pada
saat ini Blue Bird memiliki pelanggan korporat lebih dari 650 perusahaan.
Selama ini banyak masyarakat yang mengenal Blue Bird memang bukan karena
tarifnya yang murah, melainkan karena nyaman, aman, berkualitas dan lain
sebagainya. Sebagai langkah akhir, yang dapat dilakukan Blue Bird untuk
mempertahankan adalah dengan meningkatkan kualitas layanan yang aman dan
nyaman. Untuk menjamin hal tersebut, pihak Blue Bird sering menggunakan
mistery shopper atau penumpang yang diminta untuk menguji sopir. Seiring
dengan itu, pelatihan bagi para pengemudi mengenai pentingnya layanan pun
terus digencarkan guna memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Basis
usaha Blue Bird terletak pada jasa transportasi, khususnya adalah taksi
dan alat angkutan / kendaraan. Secara langsung yang menjadi penggerak
utama usaha ini adalah para pengemudi-nya. Selain berfungsi utama sebagai
driver, pengemudi juga menjalankan fungsi sebagai customer service dan
sales force, karena mau tidak mau, para pengemudi inilah yang akan
berhadapan langsung dengan penumpang / customer. Para pengemudi di Blue
Bird dilatih secara khusus dalam berbagai tahapan training. Dari para pengemudi
inilah image Blue Bird dibangun. Sehingga tidak heran bila masyarakat
mengenal Blue Bird karena para pengemudinya yang baik dan jujur.
2.2. Sistem
Pendukung Keputusan
Sistem pendukung keputusan (SPK) atau dikenal
dengan Decision Support System (DSS), pada tahun 1970-an sebagai
pengganti istilah Management Information System (MIS). Tetapi pada
dasarnya SPK merupakan pengembangan lebih lanjut dari MIS yang dirancang
sedemikian rupa sehingga bersifat interaktif dengan pemakainya. Maksud dan
tujuan dari adanya SPK, yaitu untuk mendukung pengambil keputusan memilih
alternatif keputusan yang merupakan hasil pengolahan informasi-informasi yang
diperoleh/tersedia dengan menggunakan model-model pengambil keputusan serta
untuk menyelesaikan masalah-masalah bersifat terstruktur, semi terstruktur dan
tidak terstruktur (Mulyono, 1996).
2.2.1. Karakteristik dan Kemampuan dari SPK
SPK mempunyai beberapa dari satu daftar ciri khas
dibawah ini ;
1. SPK menyediakan pendukung untuk pengambilan
keputusan secara garis besar dalam situasi semi terstruktur dan tidak
terstruktur dengan menambahkan kebijaksanaan manusia dan informasi
komputerisasi. Banyak masalah tidak dapat diselesaikan secara memuaskan dengan
sistem komputerisasi, seperti EDP atau MIS ataupun dengan peralatan dan metode
kuantitatif yang standar.
2. Berpendukung
untuk menyediakan berbagai tingkat manajerial, mulai dari eksekutif tertinggi
sampai pada garis manager bawahnya.
3. Berpendukung
untuk satu individu ataupun satu grup. Kurang terstrukturnya masalah biasanya
membutuhkan keterlibatan beberapa individu dari berbagai bagian dan tingkat
organisasi.
4. SPK menyediakan
untuk mendukung pada beberapa keadaan keputusan yang saling bergantung dan
ataupun berurutan.
5. SPK mendukung
semua langkah pada proses membuat keputusan yaitu : inteligensi, perancangan,
pilihan, implementasi.
6. SPK mendukung
gaya dan variasi dari proses membuat keputusan, sesuatu yang pas antara SPK
dengan atribut dari individu pembuat keputusan (misalkan perbendaharaan kata
dan gaya keputusan)
7. SPK dapat
beradaptasi sepanjang waktu. Pembuat keputusan harus reaktif, berani menghadapi
perubahan kondisi dengan cepat dan mengadaptasikan SPK terhadap perubahan itu.
SPK fleksibel, maka pemakai dapat menambahkan, menghapus, menggabungkan,
merubah atau mengelola ulang elemen dasar. Kemampuan ini membuat “ad hoc”
analisis yang cepat
8. SPK mudah
dipakai. Pemakai harus merasa “at home” dengan sistem. Sangat berteman dengan
pemakai atau sering disebut dengan user friendly, fleksibel, berkemampuan
grafis yang kuat dan bahasa antarmuka manusia-mesin memakai bahasa ingris, hal
ini dapat membuat meningkatkan efektifitas SPK.
9. SPK berusaha untuk
meningkatkan efektifitas saat membuat keputusan (ketepatan, waktu, kualitas )
dibanding dengan efesiensi (biaya untuk membuat keputusan, termasuk biaya untuk
lamanya waktu komputer beroperasi)
10. Pembuat keputusan mempunyai kontrol yang
lengkap terhadap semua langkah dari proses saat membuat keputusan penyelesai
masalah. SPK secara khusus bertujuan mendukung dan tidak menggantikan pengambil
keputusan. Pengambil keputusan dapat menghapus rekomendasi komputer pada setiap
saat dalam proses.
11. SPK menuntut untuk proses belajar, terutama
ketika muncul tuntutan baru dan perbaikan sistem, dimana proses belajar yang
terus menerus akan meningkatkan dan mengembangkan SPK itu sendiri.
12. Untuk sistem yang sederhana pemakai akhir (end
user ) dapat membangun sendiri sistem yang dibutuhkan. Namun, untuk sistem yang
besar dibutuhkan sedikit bantuan atau peran serta dari ahli sistem informasi.
13. SPK biasanya memanfaatkan model (standar atau
buatan khusus) untuk menganalisis situasi ketika keputusan harus diambil.
Kemampuan model dapat dicoba dengan strategi yang berbeda dibawah konfigurasi
yang berbeda. Beberapa percobaan dapat menyusun suatu pelajaran dan pandangan
baru.
14. SPK tingkat lanjut dilengkapi dengan komponen
pengetahuan yang memungkinkan untuk membuat solusi yang efisien dan efektif
dari masalah yang sulit
2.2.2. Komponen dari SPK
Sistem
berpendukung keputusan terdiri dari beberapa subsistem, yang diantaranya
1. Pengelolaan Data ( Data Management), Pengelolaan
data termasuk database, dimana berisi data yang relevan untuk situasi dan
dikelola oleh software yang disebut DBMS (Database Management System ),
2. Pengelolaan Model ( Model Management),Paket Software
dimana termasuk financial, statistic, management science, atau model
kuantitif lainnya, dimana menyediakan kemampuan analitis sistem dan software
menejemen yang cocok.
3. Komunikasi ( Subsistem Dialog ),Pemakai dapat
mengkomunikasikan dan memerintahkan sehingga untuk itu diperlukan suatu antar
muka pemakai (Use Interface)
4. Pengelolaan Pengetahuan ( Knowledge
Management ), Subsistem yang dapat dipilih untuk dapat
mendukung setiap subsistem lain atau bertindak sebagai komponen yang berdiri
sendiri.
5. Pemakai (User), Pemakai yang
mengaplikasikan pengetahuan ataupun sebagai pengguna dari system.
2.2.3. Klasifikasi SPK
1.
Berdasarkan
orientasi aksi yang digunakan untuk menghasilkan system output, yaitu:
· data-oriented: membentuk analisis data dan/ atau pengambilan
data
· model-oriented: menyediakan kemampuan simulasi, optimasi dan
perhitungan yang menyarankan jawaban
2.
Berdasarkan
sifat dari situasi pengambilan keputusan yang dapat didukung oleh SPK, yaitu:
· Institusional: SPK yang berkaitan dengan keputusan yang
sifatnya berulang
· Ad Hoc (Khusus): SPK yang berkaitan dengan
permasalahan spesifik yang umumnya tidak berulang dan tidak dapat diantisipasi
3.
Berdasarkan
derajat proseduralitas proses pengambilan data dan bahasa pemodelan yang
disediakan oleh SPK
· Prosedural
· Non Prosedural
4.
Berdasarkan
dukungan/ support yang diberikan oleh SPK
· Personal support: berfokus pada pemakai individual yang
membentuk aktifitas tersendiri
· Team support: berfokus pada sekelompok orang yang bekerja
dalam tugas yang berbeda tapi masih saling berkaitan
· Organizational support: berfokus pada tugas organisasi atau aktifitas
yang melibatkan sederetan (sekuens) operasi, pada area fungsional yang berbeda,
pada lokasi yang berbeda dan pada sumber daya masing-masing
5.
Berdasarkan
cara pengambilan keputusan dalam organisasi –Pengambilan keputusan individual
· Pengambilan keputusan kelompok
6.
Berdasarkan
teknik pembangunan SPK
· Custom-made: yaitu SPK yang dibuat berdasarkan permintaan
organisasi maupun individual. Umumnya persoalan yang akan dipecahkan merupakan
persoalan yang tidak rutin dan tidak terstruktur
· Ready-made: SPK yang dibangun tanpa adanya permintaan
khusus, dan sudah tersedia di pasaran. SPK jenis ini bisa langsung digunakan
atau hanya membutuhkan sedikit modifikasi, karena persoalan yang dipecahkan
bersifat umum untuk beberapa perusahaan.
Contoh
kasus seseorang berusaha menentukan apakah ada suatu masalah, mengidentifikasi
gejala-gejalanya, menentukan keluasannya, dan mendefinisikannya secara
eksplisit setelah itu membuat suatu solusi.
2.3 Teknologi Informasi dalam Manajemen
Perkantoran Modern
Peranan
teknologi informasi bagi dalam manejemen perkantoran modern sangatlah penting
karena sangat berpengaruh dalam memproses suatu sistem informasi. Sistem
informasi membantu organisasi mengolah data tersebut menjadi informasi yang
lengkap dan berguna.
Dijaman
informasi dan komunikasi abad 21 ini, penggunaan internet di kalangan pemerintah sudah sampai ke Kabupaten bahkan Kecamatan. Hal ini
menunjukkan betapa cepatnya pengaruh
perkembangan teknologi informasi terhadap
peradaban manusia, dan tentunya akan berpengaruh langsung pada dunia perkantoran modern.
peradaban manusia, dan tentunya akan berpengaruh langsung pada dunia perkantoran modern.
Bagi
sebuah perkantoran modern, manfaat yang didapat dari teknologi informasi yang berbasis
internet cukup banyak dirasakan,
antara lain:
1. Dapat saling tukar menukar informasi walaupun dalam jarak
jangkauan yang sangat jauh;
jangkauan yang sangat jauh;
2. Dapat mengetahui perkembangan terkini yang berhubungan
erat dengan masalah-masalah substansi organisasi;
erat dengan masalah-masalah substansi organisasi;
3. Dapat mengambil langsung (copy/download) informasi
yang
akan kita butuhkan;
akan kita butuhkan;
4. Dapat mengurangi penggunaan kertas yang menumpuk
(paperless);
(paperless);
5. Dapat melakukan teleconference (komunikasi langsung
jarak
jauh) antara sesama pengguna.
jauh) antara sesama pengguna.
Dengan
kemampuan teknologi informasi yang begitu luar biasa maka dapat dikatakan bahwa begitu
tingginya ketergantungan manusia
terhadap teknologi informasi itu sendiri khususnya dalam dunia perkantoram modern, dan
ini berarti bahwa tak akan
berjalan sebuah kantor apabila secara tiba-tiba saja teknologi hilang dari muka bumi.
Contoh
kasus :
Salah satu contoh kasus penerapan Sistem Informasi Manajemen pada PT. Jasa
Marga (Persero) Tbk. Yaitu Bidang Operasional
Dari sisi operasional, pelayanan
difokuskan untuk memberikan jasa layanan tol yang modern dan berkualitas. Hal
tersebut dilakukan Jasa Marga melalui peralihan dari sistem yang berbasis SDM (human-based)
menjadi berbasis teknnologi (technology-based), yaitu penerapan sistem
transaksi elektronik dengan menggunakan e-Toll Card. Penerapan Gardu Tol
Otomatis (GTO) dilakukan untuk mendukung penerapan e-Toll Card tersebut. GTO di
khususkan bagi pengguna jalan tol golongan I (kategori kendaraan non bus) yang
menggunakan e-Toll Card untuk melakukan transaksi di tol.
Penerapan sistem transaksi
elektronik tersebut memberikan layanan transaksi yang lebih cepat serta
memberikan kemudahan bagi pengguna jalan tol dengan tidak diperlukannya uang
tunai dalam bertransaksi. Selain itu, Jasa Marga menerapkan sistem informasi
dan komunikasi pelayanan lalu lintas terpadu dan efektif, dengan
mengintensifkan pemantauan kondisi lalu lintas secara real-time melalui kamera
CCTV (closed-circuit television), mempercepat proses mendapatkan
informasi terkait kondisi lalu lintas secara real time melalui rambu elektronik
Variable Message Sign (VMS) dan Pusat Informasi Lalu Lintas Jasa Marga,
sehingga response time bagi petugas di lapangan dan informasi yang
disampaikan kepada pengguna jalan tersedia dengan cepat, akurat dan real time.
Selain itu pembakuan standard
operating procedure (SOP) mengenai seluruh aspek pelayanan mulai dari aspek
keamanan, kelancaran arus lalu lintas serta perawatan dan pemeliharaan jalan
tol dilakukan Jasa Marga untuk mendukung komitmennya terhadap peningkatan
pelayanan kepada pengguna jalan tol.
Strategi terkait pemeliharaan
jalan tol difokuskan pada penerapan sistem kontrak berdasarkan kinerja dengan
jaminan minimum 2 (dua) tahun, pelaksanaan peningkatan kapasitas jalan tol,
penataan lingkungan jalan tol sesuai karakteristik masing-masing ruas jalan tol
serta penambahan lajur jalan tol yang kapasitasnya sudah mendekati 0,8 dan
memiliki lahan yang memadai.
Untuk menunjang strategi-strategi
di atas, Jasa Marga menjalankan berbagai kebijakan yang terkait dengan
pendanaan dan manajemen organisasi sebagai fungsi pendukung untuk menjalankan
strategi usaha. Dalam hal pendanaan, Jasa Marga tidak berhutang dalam valuta
asing (valas) karena pendapatan Perseroan semuanya dalam rupiah, dengan
demikian Perseroan terhindar dari setiap gejolak mata uang. Sumber dana
Perseroan berasal dari arus kas internal (pendapatan tol) serta sumber
eksternal yang dicari dari sumber yang paling efisien dari segi biaya dan
penarikannya pun sesuai dengan kebutuhan. Sumber dana eksternal berasal dari
pasar modal, perbankan dan pasar uang. Setelah jalan tol baru beroperasi hutang
Bank akan di-refinance dengan hutang jangka panjang lainnya yaitu dengan
menerbitkan obligasi yang mempunyai tenor lebih panjang.
Disamping itu, dana idle
ditempatkan secara selektif dengan hasil yang optimal melalui penempatan dana
pada instrumen portofolio yang aman, seperti deposito.
Strategi di bidang organisasi
dilakukan dengan menjadikan Kantor Pusat sebagai Investment Holding Company
sementara Anak Perusahaan/Kantor Cabang sebagai SBU (Strategic Business Unit).
Dengan strategi tersebut sebagian besar wewenang operasional yang ada di Kantor
Pusat didelegasikan ke kantor Cabang/Anak Perusahaan sehingga proses
pengambilan keputusan dapat menjadi lebih efisien dan efektif. Setiap SBU
didorong untuk menjadi organisasi yang memiliki knowledge capital. Jasa
Marga terus-menerus melakukan pelatihan dan pengembangan seperti mengikutkan
karyawan pada pelatihan-pelatihan yang mengarah pada pembentukan sikap yang
berkinerja prima, memberikan pelatihan kepemimpinan yang berorientasi pada
kepemimpinan bisnis dan teknis, meningkatkan frekuensi pelatihan
GCG, mengembangkan program pelatihan yang membangun budaya kerja yang
kompetitif secara berkesinambungan.
Sebagai upaya untuk mendorong
karyawan untuk terus berkarya, Perseroan menerapkan sistem remunerasi
berdasarkan kompetensi yang dikaitkan dengan kinerja serta standar yang berlaku
di industri (best industry practices). Evaluasi dan perbaikan sistem
pengelolaan SDM dilakukan secara terus-menerus sehingga kinerja karyawan terus
meningkat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja operasional Perseroan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi berperan dalam
proses pengambilan keputusan operasional harian sampai perencanaan jangka
panjang. Ini berarti SI bersifat modifikatif terhadap kebutuhan organisasi.
Dimanapun
dan kapanpun sistem pendukung keputusan itu dilaksanakan senyampang dalam
organisasi atau lembaga
yang bersangkutan mempunyai struktur organisasi dan dikukung oleh perangkat
informasi yang jelas.
Peranan
teknologi informasi bagi dalam manejemen perkantoran modern sangatlah penting
karena sangat berpengaruh dalam memproses suatu sistem informasi. Sistem
informasi membantu organisasi mengolah data tersebut menjadi informasi yang
lengkap dan berguna.
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, A. (2009,
Februari 14). Arif Lukman Hakim's. Dipetik January 9, 2016, dari sistem
informasi manajemen : http://elqim17.blogspot.co.id/2009/02/sistem-informasi-manajemen.html
Ramadhan. (2013,
May 28). Blog Pribadi . Dipetik January 9, 2016, dari DSS dan Contoh
kasusnya : http://si-renaldi.blogspot.co.id/2013/04/contoh-kasus-pada-sistem-informasi.html
Sihombing, M.
(2015, March 21). MUTIARA . Dipetik January 9, 2016, dari TUGAS SISTEM
INFORMASI MANAJEMEN "STUDI KASUS": http://mutiarahombing.blogspot.co.id/2015/03/tugas-sistem-informasi-manajemen-studi.html
Soetrisno, &
Renaldi, B. (2006). MANAJEMEN PERKANTORAN MODERN. Jurnal Administrasi Bisnis
, 73-76.
Zindriasih, L.
(2014, October 13). J Blog . Dipetik January 13, 2016, dari SISTEM
INFORMASI MANAJEMEN : http://zindriasihlinati.blogspot.co.id/2014/10/sistem-informasi-manajemen.html