Senin, 18 Januari 2016

UAS SIM Semester 3

MAKALAH SISTEM INFORMASI


http://www.carikampus.com/modules/univ/images/YUDHARTA.JPG




Dosen Pembimbing :
Amma Fazizah, M.AB
Oleh :
Fikri Adi Nugroho (201469100010)
Semester 3


PRODI ILMU ADMINISTRASI NIAGA
FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
UNIVERSITAS YUDHARTA PASURUAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, dapat menyusun makalah berjudul “Sistem Informasi” dengan baik dan lancar.
Makalah ini disusun guna memenuhi Ujian Akhir Semester 3 Mata Kuliah “Sistem Informasi”. Materi Sistem Informasi dalam Sistem Informasi ini merupakan materi yang telah ditetapkan dalam kurikulum perkuliahan bagi mahasiswa semester III Ilmu Administrasi Niaga Universitas Yudharta Pasuruan.
Makalah ini berisikan tentang kajian-kajian sistem informasi, berikut pengertian dan penjabaran yang diuraiakan untuk mempermudah pembaca khususnya mahasiswa untuk memahami isinya. Tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu penulis membuka saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Demikian semoga bermanfaat.




Penulis,           


Fikri Adi Nugroho


BAB I
PENDAHULUAN

  1.1            Latar Belakang
Sistem Informasi Manajemen merupakan sebuah bidang yang mulai berkembang sejak tahun 1960an. Walaupun tidak terdapat konsensus tunggal, secara umum Sistem Informasi Manajemen didefinisikan sebagai sistem yang menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, manajemen, serta pengambilan keputusan sebuah organisasi. Sistem Informasi Manajemen juga dikenal dengan ungkapan lainnya seperti: “Sistem Informasi”, “Sistem Pemrosesan Informasi”, “Sistem Informasi dan Pengambil Keputusan”.
Sistem Informasi Manajemen menggambarkan suatu unit atau badan yang khusus bertugas untuk mengumpulkan berita dan memprosesnya menjadi informasi untuk keperluan manajerial organisasi dengan memakai prinsip sistem. Dikatakan memakai prinsip sistem karena berita yang tersebar dalam berbagai bentuk dikumpulkan, disimpan serta diolah dan diproses oleh satu badan yang kemudian dirumuskan menjadi suatu informasi (Sentranet, 2013).
Kemajuan alat komunikasi pada melinium ketiga semakin mempermudah perolehan informasi dari berbagai sumber untuk berbagai kepentingan terutama dalam berbagai pengambilan keputusan didalam perusahaan, itulah sebabnya sangat dirasakan pentingnya mengelolah informasi secara terintegrasi pada setiap organisasi perusahaan. Oleh karena itulah focus utama dari system informasi manajemen adalah bagaimana mengelolah informasi sebaik-baiknya agar dapat menjadi alat pembantu bagi setiap manajer dalam pengambilan keputusan.
System informasi manajemen telah ada jauh sebelum teknologi informasi yang berbasiskan computer hadir. Akan tetapi dengan adanya computer sebagai salah satu bentuk revolusi dalam teknologi informasi, computer telah dengan menakjubkan mampu memproses data secara cepat dan akurat bahkan menyajikan informasi yang sekiranya dilakukan secara menual tanpa bantuan computer memerlukan waktu berhari-hari bahkan bermingggu-mingggu.
Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi saat ini, dimana segala kegiatan dalam kehidupan sehari-hari akan berbasis komputer. Maka dalam suatu instansi Komputer merupakan bahan kebutuhan dalam menciptakan dan memperoleh serta memproses suatu sistem informasi yang setiap saat selalu berkembang. Oleh karena itu setiap orang harus mampu berupaya mengikuti arus informasi yang berkembang di dunia teknologi ini. Pada instasni perusahaan manapun saat ini pastilah menggunakan Sistem Informasi Manajemen yaitu sebuah sistem manusia atau mesin yang terpadu (integrated), untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen dan pengambilan keputusan.

  1.2            Rumusan Masalah
1.      Bagaimana penerapan sistem informasi dalam manajemen pada suatu organisasi?
2.      Kapan dan dimana dibutuhkan adanya suatu sistem pendukung keputusan?
3.      Bagaimana peran teknologi informasi khususnya sistem informasi dalam manajemen perkantoran modern?

  1.3            Tujuan
1.      Untuk mengetahui penerapan sistem informasi dalam manajemen pada suatu organisasi
2.      Untuk mengetahui kapan sistem pendukung keputusan dibutuhkan
3.      Untuk mengetahui peran teknologi informasi khususnya sistem informasi dalam manajemen perkantoran modern



BAB II
PEMBAHASAN

  2.1            Penerapan SI dalam Manajemen suatu Organisai
Aliran informasi diatur dan diarahkan dalam suatu sistem informasi. Sistem informasi berperan dalam proses pengambilan keputusan operasional harian sampai perencanaan jangka panjang. Ini berarti SI bersifat modifikatif terhadap kebutuhan organisasi. Komponen prosedur dalam SI berkaitan dengan prosedur manual dan prosedur berbasis komputer serta standar untuk mengolah data menjadi informasi yang berguna. Suatu prosedur adalah urutan langkah yang Sebagai contoh sistem yang umumnya ada dalam suatu organisasi adalah sistem penggajian, personalia, akuntansi, dan gudang. Data mengalir dari bermacam sumber seperti : konsumen yang membeli produk atau layanan, penjual yang menyediakan barang, bank, agen pemerintah, dan agen asuransi.
Contoh kasus :
Taxi Blue Bird Group merupakan market leader dalam bisnis transportasi, Blue Bird  sudah menjadi brand yang kuat dan dikenal luas oleh masyarakat. Diawali dengan  armada 25 taksi pada tahun 1972, kini setelah lebih dari 30 tahun mendalami bisnis jasa  transportasi, Blue Bird telah berkembang pesat dengan sekitar 12000 armada-nya yang  tersebar di seluruh penjuru Jakarta. Kesuksesan yang diraih oleh Blue Bird ini tak lepas  dari upaya Blue Bird dalam memanfaatkan teknologi. Berawal sekitar tahun 1972, Blue Bird yang mengimplementasikan pertama kali di Indonesia sistem komunikasi radio  serta penggunaan argometer yang ketat untuk armada-armadanya. Jejak langkah Blue  Bird ini diikuti pula oleh perusahaan taksi lainnya yang beroperasi di Indonesia. Sekitar beberapa tahun terakhir ini Blue Bird sudah menggunakan teknologi GPS (Global  Positioning System). Selain digunakan untuk melacak posisi armada-armadanya, GPS  ini juga digunakan sarana berkomunikasi antara armada taksi dengan Call Center.  
Berbeda dengan teknologi komunikasi radio yang terbatas pada komunikasi suara yang  sudah umum digunakan oleh operator-operator taksi, teknologi GPS ini mempermudah  operator dalam menentukan posisi konsumen dan armada mana yang dapat  menjangkaunya, sehingga pelayanan bisa dilakukan lebih cepat dan mengurangi antrean  pemesanan. Keunggulan lainnya, konsumen tidak perlu mendengarkan suara dari radio  komunikasi ketika ada pemesanan yang masuk ke pengemudi taksi.  Perkembangan Blue Bird tidak cukup hanya di kota Jakarta dan sekitarnya saja,  melainkan di kota-kota besar lain di Indonesia. Di Bali, sejak tahun 1989 Blue Bird  Group telah menempatkan armada Golden Bird-nya, yang diikuti dengan armada taksi  regular Bali Taksi pada tahun 1994. Kemudian berturut-turut pada tahun 1996 dan  1997, taksi regular memasuki Lombok dengan nama Lombok Taksi dan kota Surabaya  dengan nama Surabaya Taksi. Sekitar bulan November 2005, Blue Bird mulai  menjamah kota Bandung dengan 75 armada taksi regulernya. Meskipun dengan jumlah  armada yang masih sedikit, Bandung Taksi ini mendapatkan pertentangan yang cukup  keras dari operator-operator taksi lainnya di Bandung. Harus diakui jika reputasi dan  brand image yang telah diposisikan oleh Blue Bird Group, cukup menjadi ancaman  terhadap operator taksi lainnya.
Blue Bird pada saat ini meningkatkan diversifikasi  produknya ke jasa angkutan non-penumpang Blue Bird dengan menyediakan jasa Truk Container, yaitu Iron Bird dan Angkutan Kontenindo Antarmoda. Di luar usaha  transportasi primer, Blue Bird juga telah mendirikan Holiday Resort Lombok, dan perusahaan manufacture otomotif seperti Everlite, Restu Ibu, Ziegler Indonesia, serta  usaha service lain seperti Jasa Alam, Gas Biru, dan Ritra Konnas Freight Centre. Perusahaan transportasi Blue Bird berhasil mengimplemantasikan solusi  Business Intelligent (BI), yakni SAP NetWeaver Business Intelligent (SAP NetWeaver  BI).  Ini merupakan suatu solusi yang mengolah data mentah menjadi informasi  pendukung pengambilan keputusan perusahaan dan proses bisnis sehingga mampu  memberikan gambaran lengkap dari bisnis untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda  dari para pengguna, professional TI dan manajemen senior. Solusi ini disediakan  melalui teknologi portal enterprise dan menyediakan kepada para penggunanya suatu infrastruktur andal, peralatan yang komprehensif, kemampuan untuk melakukan   perencanaan dan simulasi, serta fungsionalitas data-warehousing.
Aplikasi Business  Intelligent diperlukan perusahaan untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan  menyediakan akses ke data guna membantu penggunanya mengambil keputusan bisnis  secara akurat.  SAP (System Application and Product) adalah software ERP (Enterprise  Resources Planning), yaitu merupakan tools IT dan manajemen dalam membantu  pencanaan dan kebijakan perusahaan didalam mengambil keputusan, serta merupakan  software yang diimplementasikan untuk mendukung organisasi dalam menjalankan  kegiatan operasional secara lebih efisien dan efektif. SAP terdiri dari serangkaian modul  aplikasi yang mampu mendukung semua transaksi perusahaan. Semua modul dalam  aplikasi SAP dapat diintegrasikan secara terpadu antara satu dengan lainnya serta  memungkinkan ketersediaan data yang akurat dan aktual.  ERP merupakan suatu perangkat lunak yang didesain untuk memadukan proses  bisnis yang ada, pengunaan database perusahaan untuk menghasilkan informasi yang  valid. ERP dan Business Intelligence mempunyai keterkaitan, ERP merupakan sistem  yang menintegrasikan seluruh sistem yang ada dalam suatu perusahaan untuk  mendapatkan informasi yang benar dan digunakan untuk pengambilan keputusan.  
Proses implementasi Business Intelligent di Blue Bird Group dapat berjalan dengan baik  karena garis besar cakupan proyek dan indikator kinerja kunci perusahaan sangat jelas.  Di samping itu, proses implementasi secara hirarki dan dengan dukungan tenaga-tenaga  konsultan yang professional dan berkualitas juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan proses implementasi. Konsultan yang andal memahami bahwa pendekatan  dari bottom up untuk mengimplementasikan business intelligent akan membutuhkan  waktu yang panjang. Sedangkan metode top down merupakan metode yang tepat untuk  mengimplementasikan Business Intelligent.  Blue Bird Group mengimplementasikan SAP Netweaver BI untuk modul-modul  Financial Accounting (FI), Controlling (CO), CO Profitability Analysis (CO PA) Plant  Maintenance (PM), dan modul yang dirancang khusus yang dinamakan “Taximeter  System” dari legacy VB sistem perusahaan. Proses implementasi dilakukan oleh Hermis  consulting. Pada fase pertama, SAP NetWeaver BI “GO Live”.
Mengingat pertumbuhan  bisnis yang kian kompleks, Blue Bird Group mengimplementasikan SAP Business Suite, yang membantu perusahaan mengonsolidasikan operasional yang terdiri dari 28  cabang perusahaan, lebih dari 70 pool. Setelah itu, Blue Bird Group membutuhkan  suatu sistem yang mampu mengelola laporan-laporan yang dihasilkan SAP Business  Suite guna menjadi informasi akurat yang dapat diakses secara cepat dan tepat untuk  proses pembuatan keputusan. Blue Bird selanjutnya menginstal SAP NetWeaver BI  sebagai suatu solusi yang membantu perusahaan untuk mendapatkan manfaat yang  maksimal dari sistem SAP-nya. Melalui implementasi solusi tersebut, Blue Bird berkeinginan memiliki suatu solusi BI yang memberikan fungsionalitas menyeluruh dan  terbaik, serta di saat yang bersamaan juga menyediakan fitur-fitur bagi kebutuhan   spesifik industri. Disamping itu, solusi harus mampu mengintegrasikan data dari  berbagai perusahaan dan mentransformasikan ke dalam bentuk yang dapat dipraktekan,  informasi bisnis yang tepat waktu untuk mendorong proses pembuatan keputusan, serta  menghasilkan tindakan-tindakan yang strategis dan bisnis yang solid.  Kelompok usaha Blue Bird telah mengumumkan rampungnya  pengimplementasian solusi peranti lunak SAP dalam sistem Teknologi Informasi  mereka. Sebagai perusahaan transportasi yang armadanya mencapai lebih dari 15.000  kendaraan, Blue Bird memerlukan solusi TI yang handal untuk memantau banyak hal  dalam operasionalnya sehari-harinya, Order pelanggan, kendaraan yang beroperasi dan yang dalam perawatan, sampai konsumsi bahan bakar, perlu terdata dengan baik.  Dengan tujuan integrasi dan akurasi data, solusi MySAP Business Suite dimanfaatkan  Blue Bird untuk menangani semua itu. MySAP Business Suite merupakan solusi peranti  lunak dengan fungsi luas. Dengannya, Blue Bird dapat memonitor banyak informasi  penting secara mudah dan tepat waktu. Data tersebut akan tersedia sesuai dengan  informasi yang diperlukan oleh jajaran management untuk membuat keputusan secara  cepat. Ini tentu meningkatkan efisiensi perusahaan. Implementasi mySAP Business  Suite tersebut meliputi fungsi keuangan, controlling, sales & distribution, material  management dan fleet management.
Di samping itu, SAP secara khusus  mengembangkan dua fungsi lain untuk Blue Bird, yakni Driver Management dan  Operation & Reservation Management agar bisa disatukan dengan sistem mereka yang  berbasiskan Visual Basic. Implementasi SAP dapat membawa perubahan besar bagi  perusahaan ini. Dapat dibayangkan hanya dengan mengklik sebuah tombol, maka dapat  melihat visibilitas di seluruh operasional perusahaan. Blue Bird Group merintis penggunaan MDT (Mobile Data Transfer) dan GPS  sebagai instrument pelengkap di taksinya. MDT mirip seperti pager, dimana setiap  informasi yang terkait dengan pengemudi akan tampil dilayarnya. MDT juga  merupakan alat penangkap order dalam radius 3-4 km untuk setiap order yang dilelang  via data komputer, sehingga tidak ada istilah lagi pengemudi berebut order atau  spekulasi posisi taksi yang terlalu jauh dari tempat jemput konsumen. Pada saat ini 50%  lebih mobil-mobil Blue Bird sudah dilengkapi dengan teknologi global positioning  system (GPS) yang dapat memantau keberadaan mobil di jalan raya. Dengan alat ini  mobil dapat dilacak di manapun keberadaannya. Selain memudahkan para pengemudi,  penumpang juga merasa lebih terlindungi jika menggunakan Blue Bird. Sampai saat ini  masih sedikit perusahaan taksi lainnya yang menggunakan GPS dikarenakan biayanya  sangat tinggi dan harga GPS per unit mobil adalah Rp 15 juta. Pihak manajemen merencanakan semua taksi Blue Bird akan dilengkapi dengan sistem GPS. Salah satu  strategi yang digunakan Blue Bird didalam memelihara loyalitas pelanggannya ialah  dengan menyediakan credit voucher yang tidak hanya untuk korporat saja, namun juga  untuk perorangan. Pihaknya juga hendak menyediakan tabel diskon tertentu. Pelanggan  yang loyal pada Blue Bird dengan program ini akan dapat menggunakan taksi dengan  harga diskon, besarannya bervariasi antara 5%-15%.
Pada saat ini Blue Bird memiliki  pelanggan korporat lebih dari 650 perusahaan. Selama ini banyak masyarakat yang  mengenal Blue Bird memang bukan karena tarifnya yang murah, melainkan karena  nyaman, aman, berkualitas dan lain sebagainya. Sebagai langkah akhir, yang dapat  dilakukan Blue Bird untuk mempertahankan adalah dengan meningkatkan kualitas  layanan yang aman dan nyaman. Untuk menjamin hal tersebut, pihak Blue Bird sering  menggunakan mistery shopper atau penumpang yang diminta untuk menguji sopir.  Seiring dengan itu, pelatihan bagi para pengemudi mengenai pentingnya layanan pun  terus digencarkan guna memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Basis usaha Blue  Bird terletak pada jasa transportasi, khususnya adalah taksi dan alat angkutan /  kendaraan. Secara langsung yang menjadi penggerak utama usaha ini adalah para  pengemudi-nya. Selain berfungsi utama sebagai driver, pengemudi juga menjalankan  fungsi sebagai customer service dan sales force, karena mau tidak mau, para pengemudi  inilah yang akan berhadapan langsung dengan penumpang / customer. Para pengemudi  di Blue Bird dilatih secara khusus dalam berbagai tahapan training. Dari para pengemudi inilah image Blue Bird dibangun. Sehingga tidak heran bila masyarakat  mengenal Blue Bird karena para pengemudinya yang baik dan jujur.
2.2.   Sistem Pendukung Keputusan
Sistem pendukung keputusan (SPK) atau dikenal dengan Decision Support System (DSS), pada tahun 1970-an sebagai pengganti istilah Management Information System (MIS). Tetapi pada dasarnya SPK merupakan pengembangan lebih lanjut dari MIS yang dirancang sedemikian rupa sehingga bersifat interaktif dengan pemakainya. Maksud dan tujuan dari adanya SPK, yaitu untuk mendukung pengambil keputusan memilih alternatif keputusan yang merupakan hasil pengolahan informasi-informasi yang diperoleh/tersedia dengan menggunakan model-model pengambil keputusan serta untuk menyelesaikan masalah-masalah bersifat terstruktur, semi terstruktur dan tidak terstruktur (Mulyono, 1996).

2.2.1.     Karakteristik dan Kemampuan dari SPK

SPK mempunyai beberapa dari satu daftar ciri khas dibawah ini ;
1.      SPK menyediakan pendukung untuk pengambilan keputusan secara garis besar dalam situasi semi terstruktur dan tidak terstruktur dengan menambahkan kebijaksanaan manusia dan informasi komputerisasi. Banyak masalah tidak dapat diselesaikan secara memuaskan dengan sistem komputerisasi, seperti EDP atau MIS ataupun dengan peralatan dan metode kuantitatif yang standar.
2.      Berpendukung untuk menyediakan berbagai tingkat manajerial, mulai dari eksekutif tertinggi sampai pada garis manager bawahnya.
3.      Berpendukung untuk satu individu ataupun satu grup. Kurang terstrukturnya masalah biasanya membutuhkan keterlibatan beberapa individu dari berbagai bagian dan tingkat organisasi.
4.      SPK menyediakan untuk mendukung pada beberapa keadaan keputusan yang saling bergantung dan ataupun berurutan.
5.      SPK mendukung semua langkah pada proses membuat keputusan yaitu : inteligensi, perancangan, pilihan, implementasi.
6.      SPK mendukung gaya dan variasi dari proses membuat keputusan, sesuatu yang pas antara SPK dengan atribut dari individu pembuat keputusan (misalkan perbendaharaan kata dan gaya keputusan)
7.      SPK dapat beradaptasi sepanjang waktu. Pembuat keputusan harus reaktif, berani menghadapi perubahan kondisi dengan cepat dan mengadaptasikan SPK terhadap perubahan itu. SPK fleksibel, maka pemakai dapat menambahkan, menghapus, menggabungkan, merubah atau mengelola ulang elemen dasar. Kemampuan ini membuat “ad hoc” analisis yang cepat
8.      SPK mudah dipakai. Pemakai harus merasa “at home” dengan sistem. Sangat berteman dengan pemakai atau sering disebut dengan user friendly, fleksibel, berkemampuan grafis yang kuat dan bahasa antarmuka manusia-mesin memakai bahasa ingris, hal ini dapat membuat meningkatkan efektifitas SPK.
9.      SPK berusaha untuk meningkatkan efektifitas saat membuat keputusan (ketepatan, waktu, kualitas ) dibanding dengan efesiensi (biaya untuk membuat keputusan, termasuk biaya untuk lamanya waktu komputer beroperasi)
10.  Pembuat keputusan mempunyai kontrol yang lengkap terhadap semua langkah dari proses saat membuat keputusan penyelesai masalah. SPK secara khusus bertujuan mendukung dan tidak menggantikan pengambil keputusan. Pengambil keputusan dapat menghapus rekomendasi komputer pada setiap saat dalam proses.
11.  SPK menuntut untuk proses belajar, terutama ketika muncul tuntutan baru dan perbaikan sistem, dimana proses belajar yang terus menerus akan meningkatkan dan mengembangkan SPK itu sendiri.
12.  Untuk sistem yang sederhana pemakai akhir (end user ) dapat membangun sendiri sistem yang dibutuhkan. Namun, untuk sistem yang besar dibutuhkan sedikit bantuan atau peran serta dari ahli sistem informasi.
13.  SPK biasanya memanfaatkan model (standar atau buatan khusus) untuk menganalisis situasi ketika keputusan harus diambil. Kemampuan model dapat dicoba dengan strategi yang berbeda dibawah konfigurasi yang berbeda. Beberapa percobaan dapat menyusun suatu pelajaran dan pandangan baru.
14.  SPK tingkat lanjut dilengkapi dengan komponen pengetahuan yang memungkinkan untuk membuat solusi yang efisien dan efektif dari masalah yang sulit
2.2.2.     Komponen dari SPK

Sistem berpendukung keputusan terdiri dari beberapa subsistem, yang diantaranya
1.      Pengelolaan Data ( Data Management), Pengelolaan data termasuk database, dimana berisi data yang relevan untuk situasi dan dikelola oleh software yang disebut DBMS (Database Management System ),
2.      Pengelolaan Model ( Model Management),Paket Software dimana termasuk financial, statistic, management science, atau model kuantitif lainnya, dimana menyediakan kemampuan analitis sistem dan software menejemen yang cocok.
3.      Komunikasi ( Subsistem Dialog ),Pemakai dapat mengkomunikasikan dan memerintahkan sehingga untuk itu diperlukan suatu antar muka pemakai (Use Interface)
4.      Pengelolaan Pengetahuan ( Knowledge Management ), Subsistem yang dapat dipilih untuk dapat mendukung setiap subsistem lain atau bertindak sebagai komponen yang berdiri sendiri.
5.      Pemakai (User), Pemakai yang mengaplikasikan pengetahuan ataupun sebagai pengguna dari system.

2.2.3.     Klasifikasi SPK

1.      Berdasarkan orientasi aksi yang digunakan untuk menghasilkan system output, yaitu:
·         data-oriented: membentuk analisis data dan/ atau pengambilan data
·         model-oriented: menyediakan kemampuan simulasi, optimasi dan perhitungan yang menyarankan jawaban
2.      Berdasarkan sifat dari situasi pengambilan keputusan yang dapat didukung oleh SPK, yaitu:
·         Institusional: SPK yang berkaitan dengan keputusan yang sifatnya berulang
·         Ad Hoc (Khusus): SPK yang berkaitan dengan permasalahan spesifik yang umumnya tidak berulang dan tidak dapat diantisipasi
3.      Berdasarkan derajat proseduralitas proses pengambilan data dan bahasa pemodelan yang disediakan oleh SPK
·         Prosedural
·         Non Prosedural
4.      Berdasarkan dukungan/ support yang diberikan oleh SPK
·         Personal support: berfokus pada pemakai individual yang membentuk aktifitas tersendiri
·         Team support: berfokus pada sekelompok orang yang bekerja dalam tugas yang berbeda tapi masih saling berkaitan
·         Organizational support: berfokus pada tugas organisasi atau aktifitas yang melibatkan sederetan (sekuens) operasi, pada area fungsional yang berbeda, pada lokasi yang berbeda dan pada sumber daya masing-masing
5.      Berdasarkan cara pengambilan keputusan dalam organisasi –Pengambilan keputusan individual
·         Pengambilan keputusan kelompok
6.      Berdasarkan teknik pembangunan SPK
·         Custom-made: yaitu SPK yang dibuat berdasarkan permintaan organisasi maupun individual. Umumnya persoalan yang akan dipecahkan merupakan persoalan yang tidak rutin dan tidak terstruktur
·         Ready-made: SPK yang dibangun tanpa adanya permintaan khusus, dan sudah tersedia di pasaran. SPK jenis ini bisa langsung digunakan atau hanya membutuhkan sedikit modifikasi, karena persoalan yang dipecahkan bersifat umum untuk beberapa perusahaan.
Contoh kasus seseorang berusaha menentukan apakah ada suatu masalah, mengidentifikasi gejala-gejalanya, menentukan keluasannya, dan mendefinisikannya secara eksplisit setelah itu membuat suatu solusi.
2.3            Teknologi Informasi dalam Manajemen Perkantoran Modern
Peranan teknologi informasi bagi dalam manejemen perkantoran modern sangatlah penting karena sangat berpengaruh dalam memproses suatu sistem informasi. Sistem informasi membantu organisasi mengolah data tersebut menjadi informasi yang lengkap dan berguna.
Dijaman informasi dan komunikasi abad 21 ini, penggunaan internet di kalangan pemerintah sudah sampai ke Kabupaten bahkan Kecamatan. Hal ini menunjukkan betapa cepatnya pengaruh perkembangan teknologi informasi terhadap
peradaban manusia, dan tentunya akan berpengaruh langsung
pada dunia perkantoran modern.
Bagi sebuah perkantoran modern, manfaat yang didapat dari teknologi informasi yang berbasis internet cukup banyak dirasakan, antara lain:
1.      Dapat saling tukar menukar informasi walaupun dalam jarak
jangkauan yang sangat jauh;
2.      Dapat mengetahui perkembangan terkini yang berhubungan
erat dengan masalah-masalah substansi organisasi;
3.      Dapat mengambil langsung (copy/download) informasi yang
akan kita butuhkan;
4.      Dapat mengurangi penggunaan kertas yang menumpuk
(paperless);
5.      Dapat melakukan teleconference (komunikasi langsung jarak
jauh) antara sesama pengguna.
Dengan kemampuan teknologi informasi yang begitu luar biasa maka dapat dikatakan bahwa begitu tingginya ketergantungan manusia terhadap teknologi informasi itu sendiri khususnya dalam dunia perkantoram modern, dan ini berarti bahwa tak akan berjalan sebuah kantor apabila secara tiba-tiba saja teknologi hilang dari muka bumi.
            Contoh kasus :
Salah satu contoh kasus penerapan Sistem Informasi Manajemen pada PT. Jasa Marga (Persero) Tbk. Yaitu Bidang Operasional
Dari sisi operasional, pelayanan difokuskan untuk memberikan jasa layanan tol yang modern dan berkualitas. Hal tersebut dilakukan Jasa Marga melalui peralihan dari sistem yang berbasis SDM (human-based) menjadi berbasis teknnologi (technology-based), yaitu penerapan sistem transaksi elektronik dengan menggunakan e-Toll Card. Penerapan Gardu Tol Otomatis (GTO) dilakukan untuk mendukung penerapan e-Toll Card tersebut. GTO di khususkan bagi pengguna jalan tol golongan I (kategori kendaraan non bus) yang menggunakan e-Toll Card untuk melakukan transaksi di tol.
Penerapan sistem transaksi elektronik tersebut memberikan layanan transaksi yang lebih cepat serta memberikan kemudahan bagi pengguna jalan tol dengan tidak diperlukannya uang tunai dalam bertransaksi. Selain itu, Jasa Marga menerapkan sistem informasi dan komunikasi pelayanan lalu lintas terpadu dan efektif, dengan mengintensifkan pemantauan kondisi lalu lintas secara real-time melalui kamera CCTV (closed-circuit television), mempercepat proses mendapatkan informasi terkait kondisi lalu lintas secara real time melalui rambu elektronik Variable Message Sign (VMS) dan Pusat Informasi Lalu Lintas Jasa Marga, sehingga response time bagi petugas di lapangan dan informasi yang  disampaikan kepada pengguna jalan tersedia dengan cepat, akurat dan real time.
Selain itu pembakuan standard operating procedure (SOP) mengenai seluruh aspek pelayanan mulai dari aspek keamanan, kelancaran arus lalu lintas serta perawatan dan pemeliharaan jalan tol dilakukan Jasa Marga untuk mendukung komitmennya terhadap peningkatan pelayanan kepada pengguna jalan tol.
Strategi terkait pemeliharaan jalan tol difokuskan pada penerapan sistem kontrak berdasarkan kinerja dengan jaminan minimum 2 (dua) tahun, pelaksanaan peningkatan kapasitas jalan tol, penataan lingkungan jalan tol sesuai karakteristik masing-masing ruas jalan tol serta penambahan lajur jalan tol yang kapasitasnya sudah mendekati 0,8 dan memiliki lahan yang memadai.
Untuk menunjang strategi-strategi di atas, Jasa Marga menjalankan berbagai kebijakan yang terkait dengan pendanaan dan manajemen organisasi sebagai fungsi pendukung untuk menjalankan strategi usaha. Dalam hal pendanaan, Jasa Marga tidak berhutang dalam valuta asing (valas) karena pendapatan Perseroan semuanya dalam rupiah, dengan demikian Perseroan terhindar dari setiap gejolak mata uang. Sumber dana Perseroan berasal dari arus kas internal (pendapatan tol) serta sumber eksternal yang dicari dari sumber yang paling efisien dari segi biaya dan penarikannya pun sesuai dengan kebutuhan. Sumber dana eksternal berasal dari pasar modal, perbankan dan pasar uang. Setelah jalan tol baru beroperasi hutang Bank akan di-refinance dengan hutang jangka panjang lainnya yaitu dengan menerbitkan obligasi yang mempunyai tenor lebih panjang.
Disamping itu, dana idle ditempatkan secara selektif dengan hasil yang optimal melalui penempatan dana pada instrumen portofolio yang aman, seperti deposito.
Strategi di bidang organisasi dilakukan dengan menjadikan Kantor Pusat sebagai Investment Holding Company sementara Anak Perusahaan/Kantor Cabang sebagai SBU (Strategic Business Unit). Dengan strategi tersebut sebagian besar wewenang operasional yang ada di Kantor Pusat didelegasikan ke kantor Cabang/Anak Perusahaan sehingga proses pengambilan keputusan dapat menjadi lebih efisien dan efektif. Setiap SBU didorong untuk menjadi organisasi yang memiliki knowledge capital. Jasa Marga terus-menerus melakukan pelatihan dan pengembangan seperti mengikutkan karyawan pada pelatihan-pelatihan yang mengarah pada pembentukan sikap yang berkinerja prima, memberikan pelatihan kepemimpinan yang berorientasi pada kepemimpinan bisnis dan teknis,  meningkatkan frekuensi pelatihan GCG,  mengembangkan program pelatihan yang membangun budaya kerja yang kompetitif secara berkesinambungan.
Sebagai upaya untuk mendorong karyawan untuk terus berkarya, Perseroan menerapkan sistem remunerasi berdasarkan kompetensi yang dikaitkan dengan kinerja serta standar yang berlaku di industri (best industry practices). Evaluasi dan perbaikan sistem pengelolaan SDM dilakukan secara terus-menerus sehingga kinerja karyawan terus meningkat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja operasional Perseroan.
BAB III
PENUTUP

  3.1            Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi berperan dalam proses pengambilan keputusan operasional harian sampai perencanaan jangka panjang. Ini berarti SI bersifat modifikatif terhadap kebutuhan organisasi.
Dimanapun dan kapanpun sistem pendukung keputusan itu dilaksanakan senyampang dalam organisasi atau lembaga yang bersangkutan mempunyai struktur organisasi dan dikukung oleh perangkat informasi yang jelas.
Peranan teknologi informasi bagi dalam manejemen perkantoran modern sangatlah penting karena sangat berpengaruh dalam memproses suatu sistem informasi. Sistem informasi membantu organisasi mengolah data tersebut menjadi informasi yang lengkap dan berguna.


















DAFTAR PUSTAKA

Hakim, A. (2009, Februari 14). Arif Lukman Hakim's. Dipetik January 9, 2016, dari sistem informasi manajemen : http://elqim17.blogspot.co.id/2009/02/sistem-informasi-manajemen.html

Ramadhan. (2013, May 28). Blog Pribadi . Dipetik January 9, 2016, dari DSS dan Contoh kasusnya : http://si-renaldi.blogspot.co.id/2013/04/contoh-kasus-pada-sistem-informasi.html

Sihombing, M. (2015, March 21). MUTIARA . Dipetik January 9, 2016, dari TUGAS SISTEM INFORMASI MANAJEMEN "STUDI KASUS": http://mutiarahombing.blogspot.co.id/2015/03/tugas-sistem-informasi-manajemen-studi.html

Soetrisno, & Renaldi, B. (2006). MANAJEMEN PERKANTORAN MODERN. Jurnal Administrasi Bisnis , 73-76.

Zindriasih, L. (2014, October 13). J Blog . Dipetik January 13, 2016, dari SISTEM INFORMASI MANAJEMEN : http://zindriasihlinati.blogspot.co.id/2014/10/sistem-informasi-manajemen.html